Ketika Semua Hal Telah Terjadi....
Assalamualaikum sahabat blogger...
Apa kabar nih semua? semoga dalam keadaan baik-baik saja ya..
mungkin sebagian dari pembaca ada yang baru merasakan lelah mengerjakan soal-soal ujian nasional yang menguras otak dan keimanan kita semua..
ya kalo masih stress segera refresh atuh otakknya oke?
Ga kerasa udah hampir dua bulan nih saya ga buka blog ini,gila ternyata UN menguras semua aktivitas yang biasa bisa saya lakuin setiap minggu nihh dan untungnya sekarang UNnya udah selesaiiiii....:))
Apa kabar nih semua? semoga dalam keadaan baik-baik saja ya..
mungkin sebagian dari pembaca ada yang baru merasakan lelah mengerjakan soal-soal ujian nasional yang menguras otak dan keimanan kita semua..
ya kalo masih stress segera refresh atuh otakknya oke?
Ga kerasa udah hampir dua bulan nih saya ga buka blog ini,gila ternyata UN menguras semua aktivitas yang biasa bisa saya lakuin setiap minggu nihh dan untungnya sekarang UNnya udah selesaiiiii....:))
Tariklah
nafas. Entah kita sudah berada dimana sekarang. Terlalu cepat waktu berlalu.
Rasanya, baru beberapa saat kita berada di tempat ini, tapi waktu sudah
berhasil menipu kita dengan baik. Kita hanya dapat tertegun menatap kalender,
entah kita sadar sudah mencoretnya atau belum.
Tengoklah
sekeliling. Semua tampak tak berubah, tapi ada yang lain, bukan ? bukan karena
wajah yang berubah,bukan hanya itu teman.
Jutaan detik
yang lalu kita telah lewati tanpa sadar, mengantar kita dari kegulitaan malam
kepada cahaya binar pagi, yang seakan benar benar menipu kita untuk melakukan
hal yang sama setiap hari, dengan senyum yang sama setiap hari, padahal … semua
pasti akan berakhir, bukan ?
Kita ini
orang muda. Tapi tak selalu muda. Tipuan gravitasi tanpa sadar telah membutakan
mata kita akan hadirnya masa dewasa. Dewasa ? Hmm, really ?
I don’t know. Yang jelas, setiap langkah kita
disini memang menuju ke sebuah tingkatan yang memuncak, yang akan sampai pada
puncaknya. Lalu, suatu saat nanti, seperti roller coaster, akan menukik turun
dengan cepat …. Dan akhirnya masuk ke “lubang hitam kehidupan” , dan Bang !
kita pun masuk ke alam dan dimensi lain lagi.
Coba kita
lihat awan hari ini. Hampir sama persis seperti cerahnya hari kemarin. Ataukah
mendung ? hampir sama persis seperti beberapa hari yang lalu. Dan, sampaikah
kita kepada saat matahari terbenam ? betul, segalanya terlihat akan sama persis
dengan hari kemarin, dan hari hari sebelumnya.
Saya, pun
sejenak merenung setelah suatu hari setelah shalat maghrib pada saat matahari
terbenam. Saya pergi ke “tempat spesial” untuk melihat terbenamnya matahari. Sejenak,
saya terbuai lamunan paduan merah-jingga nya langit petang itu, dengan paduan
awan yang melapisi strata langit terendah, begitu permai dengan beberapa
kerlipan malu-malu sang alpha centauri.
Tapi … saya
terkejut.
Hei, sudah
berapa lama saya melakukan seperti ini ? Sekali menepuk pipi, pun rasanya saya
tak begitu sadar. Namun, saya mengakui bahwa saya (sudah) tiga tahun berada di
tempat ini, di Kota Kembang ini, untuk sekedar menatap matahari yang hendak
terbenam ! apalah ini, kalau bukan namanya FATAMORGANA waktu yang dahsyat … dan
saya baru tersadar bahwa memang benar adanya. Saya sedikit tersenyum kecut, dan
menarik nafas panjang. Hari-hari yang memang berlalu begitu cepat …
Menilik
senarai langkah-langkah yang sudah dipijak, membuat saya terharu dan berfikir
ulang, kenapa waktu berlalu begitu cepat. Saya pikir, saya akan begitu rindu
dengan berbagai kebiasaan yang dilakukan setiap harinya. Jalanan sempit di
pinggir kota itu, bertemu muara dengan jalanan pematang sawah yang memanjang
hingga ke pinggir sekolah adalah saksi bisu seorang anak muda yang mengejar
mimpinya ini.
Meskipun itu
hanya sebuah jalan, namun ia tentu merekam beberapa episode kehidupan saya,
yang berupa potongan mozaik kecil yang berserakan dimana-mana, dimana mozaik
itu bukanlah berlian atau emas, mungkin hanya sebuah rekaman kehidupan bahwa :
saya melewati jalan itu dengan ceria dan semangat pada pagi hari, dan pulang
berpeluh pada siang hari. Ya, hanya itu. Tapi andaikata sejarah berkata lain
suatu saat nanti, ketika seseorang yang setiap hari melalui jalan itu telah
sukses, tentu, walapun hanya setapak jalan, itu merupakan sesuatu yang patut
untuk dikenang. Bagaimanapun, jalan itulah yang menjadi saksi, bagaimana seorang
anak tersebut mulai mengubah diri, hingga ia akhirnya benar-benar
berubah.
Apapun itu,
masa muda di masa putih biru akan terkenang indah. meski itu terlalu cepat,
namun tetap membekas di lubuk hati yang paling dalam. teringat kembali
bagaimana pertama kali masuk SMP, dengan blah-blohnya, beberapa kejadian
lucu di masa orientasi, dan entah kenapa ...
segala
pertemuan hendaknya untuk perpisahan juga.
Gurindam
tersebut hendaknya kita maknai, karena apapun yang bermula, pasti akan
berakhir. pasti, pasti, dan pasti. sampai tuhan pun hendak membuka tabir baru,
sebuah kehidupan yang baka suatu saat nanti.
Nikmatilah
saat-saat terakhir. begitulah kamus hidup saya berkata. kata ini saya temukan
di 'halaman terakhir' . Begitulah, seperti hukum alam, saya harus menutup lembaran
buku kenangan masa putih biru. kamus hidup yang membesarkan anak desa ini,
kamus hidup yang membuka cakrawala berfikir yang luas, kamus kehidupan yang tak
kehilangan corak warna-warni dunia remaja, kamus kehidupan yang mengajarkan hidayah,
cinta, dan motivasi ... kamus kehidupan yang membuat saya harus semakin
merunduk menyikapi hidup.
Namun, jika
diinti-intip lagi selembaran lama dalam kamus hidup itu, betapa banyak hal yang
membuat saya terkesima, tertawa geli, maupun menarik nafas panjang ... sekian
jalan yang saya tempuh, beberapa diantaranya memberikan pelajaran tak ternilai
harganya.
Tak luput
pula sebagai seorang remaja yang masih lugu soal cinta, bagaimana seorang saya
mengejar cinta hingga tertatih-tatih dan tak jarang galau, (hahahaha) hingga
akhirnya mendapatkan cinta pertama (horeeeeeee ....) ..... aaah tak lupa pula
merasakan sakit dan perihnya. hahaha, seakan itulah asam garam kehidupan remaja
yang saya syukuri telah mendapatkan pelajaran daripadanya. semoga seiring
dewasanya ini, saya dapat benar-benar menyikapi cinta, yang murni dan long
lasting , insya allah, amin.
Lebih banyak
cerita hidup saya, hanyalah Allah, saya dan diary saya yang lebih tahu.
mungkin diantaranya tidak penting bagi pembaca sekalian, namun saya hanya
menjadi salah seorang yang merasakan sebuah fakta : WAAAAAAA, MASA SMP
KOK CEPET BANGET SELESAINYAAAAA :(
Hahaha.
sudahlah. yang jelas, tetap isi kamus kehidupan kita dengan hal-hal yang
bermanfaat dan menyenangkan, karena siapa tahu kita akan membuka
lembaran-lembaran usang itu suatu saat nanti, dan kita akan tersenyum puas
ketika mengulangnya kembali...
Komentar
Posting Komentar